Senin, 22 Desember 2008

SERPIHAN KASIH (Mesa Lindari, 3 IPA 2)

Matahari merangkak tinggi. Payung kegelapan sudah terkuak dengan datangnya pagi. Langit biru yang membentang indah tetap setia menjadi pasangan dataran kehidupan. Angan asa membeliakkan pikiranku pada peristiwa sore kemarin. Kerongkonganku sulit menelan air ludah, sewaktu nama Abak yang disebut-sebut Depi, langsung muncul di depan mata.
Sarah...mana Abakmu yang juragan itu? Sudah hampir dua tahun engkau kuliah di sini, tidak pernah satu kali pun aku melihat dia menengokmu. Sesekali ingin juga aku mencandainya.”
Perkataan Depi kujawab hanya dengan seulas senyum, karena memang tidak mungkin hal itu terjadi. Meskipun kata orang aku anak seorang juragan pemborong di nagari Padang - Pariaman. Tapi tetap saja hidupku tak semanis hidup kawan-kawan setempat tinggal denganku. Rini saja yang ayahnya petani di nagari Andaleh, Payakumbuh, hampir setiap bulan Ayah dan Ibunya membawakan hasil-hasil pertanian untuk keperluan anaknya sehari-hari. Meskipun pakaian ayah Rini sangat bertolak belakang dengan pakaian Abak, namun di saat akan kembali pulang ke Payakumbuh, ayahnya tak segan-segan untuk menguakkan dompet mengambil uang sepuluh ribuan beberapa lembar. Tapi, bagaimana denganku? Dengan keadaanku? Yang seorang anak juragan. Untuk mendapat uang sepuluh ribu sajasulitnya minta ampun. Belanjaku saja tidak sepadan dengan statusku sebagai anak orang kaya. Barangkali tak ada yang percaya bahwa aku harus mengirit uang lima puluh ribuan yang diberikan Abak untuk keperluan satu bulan.
Seumur-umur belum pernah satu kali pun Abak menanyakan apakah aku sehat? Butuh uang? Atau pertanyaan lainnya yang dapat membuat hatiku cukup senang?

Sar...Sarah...sepertinya itu mobil Abakmu bukan? Aduh gila... Abakmu Sar, dia benar-benar datang. Bertambah tampan saja dia.” Tampak dari kejauhan sedan vw merah berjalan pelan dengan seorang pengendara yang melihat-lihat setiap rumah yang dilaluinya.
“Tak tahukan dia rumah kos-mu Sar? “ Lamunanku koyak sejenak mendengar perkataan Depi yang sedari tadi kuacuhkan. Urat-urat sarafku memaksakan jantung untuk memompa darah lebih cepat. Hatiku bak didatangi seorang raja. Raja yang selama ini aku tunggu. Yang selama ini aku rindukan kasih sayangnya, dan kini telah berada di depan mata. Itu memang H.Dt.Sarian. Siapa yang tidak kenal dia? Hatiku melonjak perintahkan mulut tuk teriak,
“Bak...Abak, mau kemana Bak?”
“Eh...supiak...disini kau tinggal? ”
Tanpa turun dari mobil dengan gaya yang sangat dingin seorang laki-laki tajir dikombinasikan jas putih dan dirangkai dengan dasi berwarna hati ayam. Sepuntung pipa rokok dan tak kalah ketinggalan kaca mata coklat tua yang memberikan aroma mewah di zaman tahun 80-an. “Ndak masuk dulu, Bak? “
“Ah...tidak usahlah, masih banyak keperluan. Oh iya Abak pergi dulu. “
Pikiranku berkelabat untuk bertanya dalam hati. “Tidaklah dia hendak membesukku? “ Kucoba hentikan Abak. “Bak...Abak tidak mengasih Sarah uang? Sarah sudah kehabisan uang, Bak. “
Renggutku mencoba manja.
Tanpa basa-basi abak mengeluarkan tiga lembar uang ribua. Aku tidak bisa menerka berapa banyak uang abak, dengan melihat ketebalan dompetnya. Sungguh menyusut kalbuku disaat Abak memberikan uang tiga ribu rupiah. Astagfirullah.... Benarkah ini? Bayangan kembali menjemput kejadian disaat Rini yang diberikan uang puluhan ribu oleh orang tuanya yang petani. Malu bercampur sedih membuatku tuk membungkam. Tak lagi berontak, berusaha menerima dan mencoba mengerti watak Abak.
Hatiku merintih, tapi inilah realita yang sudah kuterima semenjak usiaku beranjak belia. Ya .... semenjak kejadian itu. Semenjak wanita itu merebut Abakku.
* * *
Kokok ayam terdengar disela-sela dentang jam yang berbunyi tiga kali. Malam ini aku baru saja menyelesaikan beberapa tugas yang akan dikumpulkan pada saat jam kuliah nanti. Kulirik jam tua di sudut meja belajar dekat rak buku-buku. Harta satu-satunya yang kumiliki, hadiah pemberian Abak disaat ulang tahunku yang ke-5. Akhir dari kebahagiaanku, karena beberapa hari setelah itu Abak bercerai dengan emak.
Tanganku masih menengadah meminta banyak hal pada Dia. Kebaikan, kekuatan iman, kejernihan hati, kesabaran, ketepatan lisan, kesehatan, bagiku, bagi orang tuaku. Dadaku berdesir. Kaum muslimin. Rezeki yang cukup. Ampunan. Rahmat dan hidayahnya. Semua .... usai sholat, ketika kulipat mukena, baru kusadari satu hal, “ Aku lupa meminta kehidupan yang baik dan diridhoiNya.”
* * *
Ya...aku harus bisa. Aku mampu melakukannya. Toh ini tidak berdosa. Aku kan anaknya. Apa salahnya aku melakukan hal ini? Aku berhak ...., karena aku juga anaknya.”
“Syukurlah akhirnya aku berhasil. Tuhan... jangan anggap hal ini sebagai kejahatan. Hamba tidak ambil banyak. Cuma bahan-bahan masak untuk keperluan sebulan. Namun yang hamba lakukan ini tidak akan mengurangi harta mereka. Hamba juga punya hak.”
Kejadian seperti ini sudah yang kelima kalinya aku lakukan. Di saat indahnya mimpi warnai seisi rumah. Haruskah aku dipermalukan kembali sebagai peminta-minta? Di rumah ini oleh ibu tiriku. Tidak... inilah cara yang paling tepat, menurutku.
Piak... kamu urus saja semua beasiswa di tempat kuliah mu itu. Surat miskin yang kamu minta sudah selesai.” Sambil memberikan selembar kerta bertuliskan “Surat Keterangan Miskin”.
Tiba-tiba Ibu Rapiah istri kedua Abak menyela dengan segera, “Apa tidak malu kalau diberi surat miskin? ” Dengan enteng Abak menjawab, “Ah...tidak apa-apa, Ibunya Sarah kan berbeda dengan anak kita.”
Perkataan Abak sungguh sulit kulupakan. Entah apa sebabnya Abak begitu aneh kepadaku. Bahkan mungkin bisa dikatakan Abak banyak berubah.
* * *
“Pencuri kau Sara... Berani-beraninya kau melakukan hal itu di rumah Abak kau sndiri. Bukankah dia memberimu belanja tiap bulan? Kalau kau mau meminta sesuatu, minta saja terus terang. Apa kau di suruh emak kau yang menjual beras itu? Hal ini yang selalu kau perbuat bila kau datang ke sini. Sungguh memalukan. Darah siapa yang mengalir di tubuhmu? Sehingga menghasilkan keturunan yang sangat menjijikkan tingkah lakunya seperti engkau.”
Berbagai umpatang ia torehkan dalam hatiku. Tak dapat kudengar semua kata-kata istri muda itu. Terlalu menyakitkan bagiku. Emak? Kenapa dia harus menyalahkan emak? Luka hatiku digoresnya lebih dalam mencincang-cincang hulu nadiku. Larutan cuka menambah pedih dan kedukaan yang sangat memilu. Abak...? kenapa dia diam? Apa dia senang melihat aku dimarahi dan dipermalukan? Tidakkah tersisa secuil perasaan sayang dalammendengarkan rintihan jiwaku? Berontak. Tak mungkin pernah bisa aku melakukannya. Kepalaku terasa memikul seratus ton beban, terlalu berat. “Ya... Tuhan kuatkan hambaMu.” Disaat hentakan batin bergejolak setelah mendengar Ibu Rapiah berkata, “Jangan lagi pernah kau injak rumah ini! Sudah muak aku melihat wajah pencuri yang nantinya bisa saja menular pada anak-anakku yang masih kecil. Tinggalkan rumah ini segera. Adukan semua ini pada emakmu.”
Tidak kuat hatiku menahan dan menahan. Racun itu sudah sampai ke sembilu hatiku. Segera kutinggalkan rumah megah itu, tanpa beralaskan kaki dan membawa barang-barangku. Lagi- lagi aku lihat Abak yang hanya seperti patung terdiam dalam kebisuan. Menapaki halaman rumah yang tak lagi megah dan indah. Rumah itu lebih menyerupai gerombolan makhluk-makhluk ganas yang segera menerkamku. Sempatku menoleh ke belakang berhenti melihat reaksi Abak untukku. Namun gambaran muram lain membuatku semakin meronta, menghentakkan kaki tuk berlari meninggalkan rumah kejam itu.
Kupacu langkahku keluar dari pagar tinggi menuju jalan raya lintas Padang-Pariaman. Tanpa tahu tujuan hendak kemana dan dimana aku hempaskan kepiluan hati.
Ternyata Tuhan lebih memilihkan terbaik untukku, karena di rumah emak sama saja dengan memberikan jiwaku pada seorang Bapak tiri yang lebih mengerikan lagi, dan sangat sring menggodaiku. Tempat abadi yang ipilihkan Allah mungkin lebih tepat untukku. Benturan kecelakaan itu sungguh membuatku tak berdaya. Tempat ini lebih terasa nyaman di saat semua sisi permasalahan sirna sejenak.
Sempat kumendengar teriakan sorang lelaki dan pekikan wanita menyebut namaku. Bayang-bayang semu menuju ke arahku. Aku merasa skenario baru menghantarkanku ke tempat tidur yang sangat panjang. Tempat peristirahatan yang kutemukan setelah mobil Patas Padang yang sedang memacu kecepatan dan menabrakku. Darah segar serasa mengalir ringan dari sekujur sendi tubuhku. Tulang-tulangku remuk. Namun hatiku yang berkecamuk terasa hilang.
Di sela keramahan orang kulihat dan kupastikan wajah Abak yang meneteskan air mata pertamanya untukku, anak wanita semata wayangnya. Yang teramat sangat merindukan kasih sayangnya. Kucoba bentuk seuntai senyuman. Meskipun luka yang menyembur di sekujur tubuhku. Tapi tak apa. Aku telah mendapatkan air mata Abak disaat mencium keningku. “Aku sayang Abak...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

http://www.shoutmix.com